BULAN Ramadhan adalah bulan yang mulia dan banyak berkahnya. Setiap muslim pasti sering mendengar bahwa bulan Ramadhan adalah bulannya Al-Quran. Karena memang sangat banyak sekali dalil yang menunjukkan hal ini. Allah Ta’ala berfirman,
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْءَانُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ
“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil)” QS. (Al Baqarah : 185)
Sedangkan keutamaan membaca Al-Quran sangat banyak dijelaskan, salah satunya adalah Sabda Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa salam,
مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا لاَ أَقُولُ الم حرْفٌ وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلاَمٌ حَرْفٌ وَمِيمٌ حَرْفٌ
“Siapa yang membaca satu huruf dari Al Quran maka baginya satu kebaikan dengan bacaan tersebut, satu kebaikan dilipatkan menjadi 10 kebaikan semisalnya dan aku tidak mengatakan “alif lam mim” satu huruf akan tetapi Alif satu huruf, Laam satu huruf dan Miim satu huruf” ( HR. Tirmidzi dan dishahihkan di dalam kitab Shahih Al Jami’, no. 6469)
Begitu juga Sabda beliau,
مَنْ قَرَأَ بِمِائَةِ آيَةٍ فِى لَيْلَةٍ كُتِبَ لَهُ قُنُوتُ لَيْلَةٍ
“Siapa yang membaca 100 ayat pada suatu malam dituliskan baginya pahala shalat sepanjang malam” ( HR. Ahmad dan dishahihkan di dalam kitab Shahih Al Jami’, no. 6468)
Keutamaan mengkhatamkan Al-Quran di Bulan Ramadhan
Hal Ini dicontohkan langsung oleh Nabi Shallallahu ’alaihi wa salam. Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu,
أن جبريل كان يعْرضُ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْقُرْآنَ كُلَّ عَامٍ مَرَّةً ، فَعرضَ عَلَيْهِ مَرَّتَيْنِ فِي الْعَامِ الَّذِي قُبِضَ فيه
“Dahulu Jibril mendatangi dan mengajarkan Al-Qur’an kepada Nabi shalallahu ‘alayhi wa sallam setiap tahun sekali (pada bulan ramadhan). Pada tahun wafatnya Rasulullah shalallahu ‘alayi wasallam Jibril mendatangi dan mengajarkan Al-Qur’an kepada beliau sebanyak dua kali (untuk mengokohkan dan memantapkannya)” ( HR. Bukhari no. 4614)
Ibnu Atsir rahimahullah menjelaskan,
أي كان يدارسه جميع ما نزل من القرآن
“yaitu mempelajari (mudarasah) semua ayat Al-Quran yang turun” ( Al-Jami’ fi Gharib Hadits, 4/64).
Hendaknya shalat Tarawih mengkhatamkan Al-Quran di bulan Ramadhan
Praktek shalat tawarih dengan target mengkhatamkan Al-Quran selama bulan Ramadhan adalah perbuatan yang sangat baik. Satu malam shalat tarawih yang di baca satu juz. Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah berkata,
ويمكن أن يفهم من ذلك أن قراءة القرآن كاملة من الإمام على الجماعة في رمضان نوع من هذه المدارسة، لأن في هذا إفادة لهم عن جميع القرآن، ولهذا كان الإمام أحمد رحمه الله يحب ممن يؤمهم أن يختم بهم القرآن، وهذا من جنس عمل السلف في محبة سماع القرآن كله، ولكن ليس هذا موجبا لأن يعجل ولا يتأنى في قراءته، ولا يتحرى الخشوع والطمأنينة، بل تحري هذه الأمور أولى من مراعاة الختمة
“dipahami dari (hadits) tersebut, bahwa Imam membaca Al-Quran seluruhnya (sampai khatam) bersama jamaah pada Bulan Ramadhan termasuk dalam mudarasah ini (yaitu mudarasah Nabi Shallallahu ’alaihi wa salam bersama malaikat Jibril alaihissalam). Oleh karena itu Imam Ahmad rahimahullah suka terhadap Imam yang mengkhatamkan Al-Quran. Ini merupakan amal para salaf yaitu mendengarkan Al-Quran seluruhnya.
Akan tetapi hal ini bukan kewajiban, agar supaya bersegera dan tidak membaca secara perlahan-lahan. Ia tidak mencari kekhusyu’an dan tuma’ninah. Bahkan mencari hal ini (khusyu’ dan tuma’ninah) lebih utama daripada perhatian terhadap mengkhatamkan” (Majmu’ Fatawa bin Baz 15/324, Asy Syamilah)
Dan mengkhatamkan Al-Quran selama bulan Ramadhan bukanlah kewajiban, syaikh Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata,
ختم القرآن في رمضان للصائم ليس بأمر واجب ، ولكن ينبغي للإنسان في رمضان أن يكثر من قراءة القرآن
“Mengkhatamkan Al-Quran di bulan Ramadhan bagi orang yang berpuasa bukanlah perkara yang wajib. Akan tetapi sebaiknya seseorang memperbanyak membaca Al-Quran di bulan Ramadhan” (Majmu’ Fatawa wa Rasail 20/516)
Artikel www.muslim.or.id
Source: islampos.com
KITA patut berbangga hati memiliki pedoman yang begitu berarti. Al-Quran merupakan mukjizat terbesar. Apa yang terkandung di dalamnya bisa menjadi pemecah permasalahan dalam hidup kita.
Lantunan ayat-ayat Al-Quran yang diperdengarkan kepada seorang ibu yang sedang hamil, bisa membuat janin yang ada di dalamnya bersujud. Seakan-akan suara itu menjadi hal biasa baginya.
KITA patut berbangga hati memiliki pedoman yang begitu berarti. Al-Quran merupakan mukjizat terbesar. Apa yang terkandung di dalamnya bisa menjadi pemecah permasalahan dalam hidup kita. Jadi, seharusnya kita tak lagi bimbang dan risau dalam menjalani permasalahan kehidupan.
Bukan hanya isi kandungan yang bisa mendamaikan, ayat-ayat Al-Quran yang dilantunkan dengan penuh kesungguhan juga bisa menentramkan jiwa. Setiap kata dalam Al-Quran bisa membuat kita tenang. Seakan beban permasalahan yang sedang kita pikul begitu ringan. Jangankan bagi diri kita, bagi janin dalam kandungan pun merasakan ketenangan itu. Benarkah?
Mendengarkan suara Al-Quran kepada janin semenjak telinganya berkembang dan berfungsi dengan baik dapat menstimulus perkembangan kecerdasan janin. Kenapa? Karena alunan Al-Quran yang dibaca dengan tartil dan sesuai dengan tajwidnya memiliki frekuensi serta gelombang yang mampu mempengaruhi otak secara positif.
Suara Al-Quran yang diperdengarkan kepada janin juga dapat mengurangi tingkat stres ibu dan janin. Keduanya saling berhubungan lho! Pada saat mengandung, bayi dan ibu terhubung secara fisiologis melalui tali pusat (plasenta). Saat sang ibu stres maka hormon kortisol (sebagai hormon kecemasan) akan diproduksi, secara tidak langsung akan masuk ke dalam plasenta dan menyebabkan janin juga mengalami stres. Sebaliknya, jika ibu dalam kondisi tenang dan relaks maka hormon kortisol akan sedikit diproduksi sehingga meminimalisir stres pada ibu dan bayi.
Seorang ilmuwan bernama Enrick William Duve pada tahun 1839 menyatakan bahwa gelombang suara rendah memiliki efek positif untuk seluruh sel tubuh manusia khususnya sel otak. Gelombang suara tersebut bernama gelombang alpha.
Sebuah video yang diunggah di situs youtobe berjudul ‘Bayi sujud dalam rahim ibu’ memperlihatkan proses seorang dokter yang melakukan penelitian dengan membandingkan posisi dan pergerakan janin sebelum dibacakan ayat suci Al-Quran dan setelah dibacakan ayat suci Al-Quran.
Subhanallah, janin seolah tidak asing dengan bacaan tersebut. Saat dibacakan ayat suci Al-Quran, janin langsung mengubah posisinya ke dalam posisi bersujud. Posisi sujud bayi terus dipertahankan sampai bacaan Al-Quran selesai. Padahal sebelumnya si bayi posisinya berubah-ubah terus tidak menentu.
Jadi, jangan ditunda-tunda lagi. Buat yang sedang hamil, atau para calon ibu yang sedang mempersiapkan diri menjadi seorang ibu, ayo kita niatkan untuk memulai memberikan pendidikan terbaik dengan mengenalkan calon anak kita kepada Allah SWT sejak dalam kandungan. Salah satunya dengan mendengarkannya firman-firman Allah yang merdu dan indah.
Referensi: Tau Gak Sih Islam Itu Sehat?/Karya: Dr. Faza Khilwan Amna, MMR dan Dr. Hendri Okarisman/Penerbit: Aqwamedika
Source: islampos.com
MEMBACA Al-Quran ada tingkatannya? Ya, dalam membaca Al-Quran kita harus memperhatiakan bagaimana cara melafalkan huruf hijaiah, termasuk keluarnya huruf hijaiah pada mulut. Selain itu, harus memerhatikan hukum-hukum membaca huruf hijaiah, dan juga tidak terburu-butu. Karena terburu-buru merupakan sifat setan.
Tahu tidak? Dalam membaca Al-Quran ada tingkatannya, loh! Nah, ini dia empat tingkatan dalam membaca Al-Quran sebagai berikut:
Pertama, Tartil. Tartil ialah bacaan yang dilakukan dengan perlahan-lahan, tenang, mengeluarkan tiap-tiap huruf pada tempat keluarnya (makhrajnya dan memberikan semua hak-hak huruf, serta merenungkan maknanya).
Kedua, Tahqiq. Dimana tahqiq ini seperti basaan tartil, namun lebih tenang. Biasanya tahqiq ini digunkan dalam proses belajar mengajar untuk melatih lidah membaca dengan benar.
Ketiga, ialah Hadar, yaitu bacaan yang dilakukan dengan cepat dengan tetap memlihara ketentuan hukum yang berlaku dalam ilmu Tajwid.
Keempat, Tadwir. Dimana tingkatan bacaan ini di antara (pertengahan) tartil dan hadar.
Di antara keempat tingkatan dalam membaca Al-Quran di atas, tingkatan yang paling baik adalah tartil. Karena tartil menggabungkan antara membaca Al-Quran dengan perlahan, tenang dan memperhatikan tajwid dan makhrajnya.
Refenensi: 24 Tuntunan Menbaca Al-Quran dengan Tartil/Sirajuddin SA/Misykat/2005
Source: islampos.com
Seperti kita ketahui bahwa peringatan Nuzulul Qur’an di Indonesia sering diperingati pada 17 Ramadhan. Berbeda dengan peringatan Nuzulul Qur’an di beberapa Negara Arab.
Sebagian besar negara Arab, hari turunnya al-Qur’an atau Nuzulul Qur’an diperingati pada malam 27 Ramadhan. Sementara di Indonesia diperingati pada 17 Ramadhan. Berikut penjelasan KH M. Ishaq Isfiroyini, salah seorang tokoh NU seperti yang dilansir dari nu.or.id.
“Para ulama Arab sepakat, al-Qur’an turun pada tanggal 27 Ramadhan bertepatan dengan malam seribu bulan, lailatul qodar,” jelasnya saat memberikan taushiyah dalam acara peringatan Nuzulul Qur’an yang diselenggarakan oleh pimpinan ranting IPNU IPPNU Kranji, Kedungwuni, Pekalongan pada hari Kamis (25/7).
Ishaq Isfiroyini menjelaskan mengenai kata “anzalna” dan “nazzala” (kami menurunkan) dalam al-Qur’an memberikan pemahaman bahwa pada malam 27 Ramadhan, Allah menurunkan ayat untuk pertama kali yang berbunyi “Iqra’…” (Surat al-Alaq) kepada Nabi Muhammad SAW.
Sementara malam 17 Ramadhan dipahami sebagian ulama sebagai saat-saat di mana Nabi Muhammad SAW menyebarkan al-Qur’an kepada umatnya kala itu.
Bagaimana dengan peringatan Nuzulul Qur’an di Indonesia? Ia bercerita, mengapa di Indonesia nuzulul qur’an lebih familiar diadakan pada malam 17 Ramadhan?
“Itu kurang lebih karena dulu ketika Soekarno memproklamirkan kemerdekaan Indonesia untuk pertama kalinya, bertepatan pada hari Jum’at tanggal 17 Ramadhan, atas saran Buya Hamka, presiden pertama Indonesia ini menggelar acara peringatan Nuzulul Qur’an sebagai rasa syukur atas kemerdekaan Indonesia,” ungkap KH Isfiroyini.
Terlepas dari perbedaan itu, ia tetap mengajak umat Islam untuk mencintai dan mengamalkan al-Qur’an serta menyongsong Lailatul Qadar.
“Mari kita tingkatkan ibadah kita di bulan yang penuh berkah ini, khususnya pada malam 21, 23, 25, 27 dan 29 Ramadhan. Semoga kita semua mendapatkan keutamaan Lailatu Qadar,” pungkasnya.
Source: islampos.com
SAUDARAKU, Kita sebagai umat muslim tentu sering membaca ayat suci Al-Qur’an, tetapi terkadang mereka tidak mengetahui apa isi kandungannya. Berikut ini sebuah cerita yang akan menjawab pertanyaan “Mengapa kita tidak menangis saat membaca Al-Qur’an?”
Sampai kabar kepada Imam Ahmad bin Hambali bahwa salah seorang muridnya selalu bangun malam dan mengkhatamkan al-Qur`an secara sempurna hingga terbit fajar. Kemudian dilanjutkan dengan shalat subuh.
Imam Ahmad pun ingin mengajarkannya cara menadabburi al-Qur`an. Datanglah ia kepada muridnya itu, kemudian berkata: “Aku dengar, kamu melakukan ini dan itu?”
Saudaraku,
Muridnya menjawab: “Ya.”
Imam Ahmad berkata lagi, “Kalau begitu, coba nanti malam kamu lakukan seperti kemarin-kemarin, tapi saat membaca al-Qur`an, bayangkan kamu membacanya di hadapanku atau seakan-akan aku mengawasi bacaanmu.”
Saudaraku,
Keesokan harinya, datanglah si murid dan Imam Ahmad bertanya hasilnya. Si murid menjawab: “Aku hanya bisa membaca 10 juz saja.”
Imam Ahmad menukas, “Coba nanti malam baca al-Qur`an seakan-akan kamu membacanya di hadapan Rasulullah SAW.”
Keesokan harinya si murid datang lagi dan berkata: “Ya Imam, aku hanya sanggup membaca juz ‘amma saja.”
Saudaraku,
Imam Ahmad berkata, “Nah sekarang, cobalah nanti malam kamu baca al-Qur`an seakan-akan di hadapan Allah ‘Azza wa Jalla”
Si murid pun kaget disuruh seperti ini.
Saudaraku,
Keesokan harinya, si murid datang dengan mata bengkak akibat dari menangis. Imam Ahmad pun bertanya: “Apa yang kamu lakukan, anakku?”
Si murid menjawab sambil menangis: “Ya Imam, demi Allah, sepanjang malam aku tidak bisa menyempurnakan bacaan surat al-Fatihah.”
Begitulah mungkin Saudaraku, mengapa selama ini bacaan Quran kita tidak pernah membuat kita menangis dan terutamanya berubah. Karena kita mungkin luput menghadirkan semua hal yang seharusnya ada dalam Quran pada diri kita.
Allahu alam.
Source: islampos.com
MUSA ‘alaihis salam adalah nabi paling mulia di kalangan Bani Israil. Beliau bergelar kalimullah – orang yang diajak bicara langsung oleh Allah di dunia. Dan beliau termasuk salah satu nabi ulul azmi.
Dalam al-Quran, perjalanan beliau paling banyak disebutkan oleh Allah, setelah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebagian yang menghitung, nama beliau disebutkan sebanyak 136 kali dalam al-Quran.
Kisah Musa Allah sebutkan secara terperinci ada di 4 surat: al-Baqarah, al-A’raf, Thaha, dan al-Qashas. Umat beliau, Bani Israil, adalah umat yang paling afdhal di zamannya. Allah berfirman,
يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اذْكُرُوا نِعْمَتِيَ الَّتِي أَنْعَمْتُ عَلَيْكُمْ وَأَنِّي فَضَّلْتُكُمْ عَلَى الْعَالَمِينَ
“Hai Bani Israil, ingatlah akan nikmat-Ku yang telah Aku anugerahkan kepadamu dan (ingatlah pula) bahwasanya Aku telah melebihkan kamu atas segala umat.”(QS. al-Baqarah: 47)
Dan perlu dipahami, umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih baik dari mereka. Karena Allah sebut umat Muhammad sebagai khoiru ummah. Allah berfirman,
كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ
“Kalian adalah sebaik-baik umat yang dikeluarkan untuk manusia.” (QS. Ali Imran: 110).
Agar Direnungkan
Ketika kisah Musa banyak disebutkan dalam al-Quran, menunjukkan bahwa Allah menghendaki agar kita banyak merenungkan perjalanan hidupnya. Mengambil pelajaran tentang bagaimana ujian berat yang dialami Musa. Dari mulai menghadapi Firaun, hingga menghadapi Bani Israil yang keras kepala.
Allah sebut Musa dalam al-Quran, sebagai Nabi yang mendapatkan banyak ujian,
وَفَتَنَّاكَ فُتُونًا
“Aku akan mengujimu dengan berbagai macam ujian.” (QS. Thaha: 40)
Ujian yang dialami Musa adalah ujian menjalani hidup di tengah masyarakat. Bukan ujian kemiskinan, ujian sakit, atau musibah bencana alam. Yang ujian ini, sangat mirip dengan apa yang akan dialami Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kaum muslimin yang menjadi umatnya.
Said bin Jubair pernah bertanya kepada Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, apa yang dimaksud futun (banyak ujian).
Lalu Ibnu Abbas membaca ayat-ayat yang menceritakan Musa dari awal. Beliau sebutkan kisah Firaun, upaya pembantaian yang dia lakukan terhadap bayi lelaki, kemudian kisah Musa dilempar di sungai dan ditemu oleh keluarga Firaun. Kemudian kisah Musa menarik jenggotnya firaun, hingga Musa diberi pilihan antara kurma dan bara. Termasuk kisah dia membunuh orang mesir, lalu dia lari ke Madyan dan menikah dengan salah satu putri orang tua di Madyan. Kemudian Musa kembali ke Mesir, dan beliau salah jalan di kegelapan malam, hingga beliau melihat api dan mendapat wahyu dari Allah.
Kata Ibnu Zubair,
وكان عند تمام كل واحدة منها يقول هذا من الفتون يا ابن جبير
Setelah Ibnu Abbas menyebutkan semuanya, dia mengatakan, “Inilah fitnah-fitnah itu wahai Ibnu Jubair.” (Tafsir Ibn Katsir, 5/285).
Allahu a’lam.
Referensi: Konsultasisyariah.com
Source: islampos.com
Namun, pernahkah kamu bertanya-tanya mengapa Nabi Muhammad SAW meminta umat islam untuk membaca Surat Al-Kahfi setiap hari Jumat?
SURAT al-Kahfi adalah salah satu surat yang sunnah dibaca setiap hari Jumat. Namun, pernahkah kamu bertanya-tanya mengapa Nabi Muhammad SAW meminta umat islam untuk membaca Surat Al-Kahfi setiap hari Jumat?
Dilansir Ilmfeed, surah ini memiliki empat cerita di dalamnya. Penasaran bagaimana rahasia yang ada di surah al kahfi? Mari kita telusuri pelajaran apa yang dapat dipelajari dari surat al-kahfi:
1.Pemuda gua
Di dalam surat al kahfi dikisahkan bebrapa pria muda yang tinggal di sebuah kota kafir, sehingga mereka memutuskan untuk hijrah demi menyelamatkan agama Allah dan melarikan diri. Allah memberikan penghargaan kepada mereka dengan belas kasihan-Nya. Mereka sembunyi di dalam sebuah gua. Mereka tidur di dalam gua selama 309 tahun. Saat mereka bangun dari tidurnya, mereka menemukan seluruh desa dalam keadaan beriman.
“(Ingatlah) tatkala pemuda-pemuda itu mencari tempat berlindung ke dalam gua lalu mereka berdoa:
“Wahai Tuhan kami berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini)”. (QS. Al-Kahfi: 10)
“Lalu Kami tidurkan mereka dengan nyenyak dalam gua itu, bertahun-tahun, yang banyak bilangannya”. (QS. Al-Kahfi: 11)
“Kemudian Kami bangkitkan mereka (dari tidurnya), untuk Kami menguji; siapakah dari dua golongan di antara mereka yang lebih tepat kiraannya, tentang lamanya mereka hidup (dalam gua itu)”. (QS. Al-Kahfi: 12)
“Kami ceritakan kepadamu (Wahai Muhammad) perihal mereka dengan benar; sesungguhnya mereka itu orang-orang muda yang beriman kepada tuhan mereka, dan Kami tambahi mereka dengan hidayah dan petunjuk”. (QS. Al-Kahfi: 13)
“Dan Kami kuatkan hati mereka (dengan kesabaran dan keberanian), semasa mereka bangun (menegaskan tauhid) lalu berkata: “Tuhan kami adalah Tuhan langit dan bumi; kami sekali-kali tidak menyeru tuhan selain Dia, sesungguhnya kami kalau demikian telah mengucapkan perkataan yang amat jauh dari kebenaran”. (QS. Al-Kahfi: 14)
“(Mereka berkata pula sesama sendiri): “Kaum kita itu, menyembah beberapa tuhan yang lain dari Allah; sepatutnya mereka mengemukakan keterangan yang nyata yang membuktikan ketuhanan makhluk-makhluk yang mereka sembah itu?(Tetapi mereka tidak dapat berbuat demikian); Maka tidak ada yang lebih zalim dari orang-orang yang berdusta terhadap Allah. (QS. Al-Kahfi: 15)
“Dan oleh karena kamu telah mengasingkan diri dari mereka dan dari apa yang mereka sembah yang lain dari Allah, maka pergilah kamu berlindung di gua itu, supaya Tuhan kamu melimpahkan dari RahmatNya kepada kamu, dan menyediakan kemudahan-kemudahan untuk urusan kamu dengan memberikan bantuan yang berguna”. (QS. Al-Kahfi: 16)
“Dan engkau akan melihat matahari ketika terbit, condong ke kanan dari gua mereka; dan apabila ia terbenam, meninggalkan mereka ke arah kiri, sedang mereka berada dalam satu tempat yang luas di gua. Itulah tanda-tanda kekuasaan Allah. Barangsiapa diberi hidayah petunjuk oleh Allah, maka dialah yang berjaya mencapai kebahagiaan; dan barangsiapa yang disesatkanNya maka engkau tidak akan memperoleh seorang penolong pun yang dapat menunjukkan (jalan yang benar) kepadanya”. (QS.Al-Kahfi: 17)
Dari kisah pemuda yang ada di gua itu, dapat kita ambil pelajaran tentang ujian keimanan dari Allah SWT.
2. Pemilik dua kebun
Dalam surat al kahfi terdapat juga sebuah cerita tentang seorang pria yang Allah dikaruniai dua taman-taman indah, tapi orang itu lupa bersyukur kepada Allah SWT, bahkan ia berani meragukan Allah tentang akhirat. Karena sikap sombongnya tersebut, Allah menghancurkan kebun-kebun milknya. Ia menyesal, namun sudah terlambat dan penyesalannya itu tidak menguntungkan dirinya.
“Dan berikanlah (Muhammad) kepada mereka sebuah perumpamaan dua orang laki-laki, yang seorang (yang kafir) Kami beri dua buah kebun anggur dan Kami kelilingi kedua kebun itu dengan pohon-pohon korma dan di antara kedua kebun itu Kami buatkan ladang. ”(QS. Al Kahfi: 32)
“ Kedua kebun itu menghasilkan buahnya, dan tidak berkurang buahnya sedikit pun, dan di celah-celah kedua kebun itu Kami alirkan sungai.” (QS. Al Kahfi: 33)
“ Dan dia memiliki kekayaan besar, maka dia berkata kepada kawannya (yang beriman) ketika bercakap-cakap dengan dia, “Hartaku lebih banyak daripada hartamu dan pengikutku lebih kuat.” (QS. Al Kahfi: 34)
“ Dan dia memasuki kebunnya dengan sikap merugikan dirinya sendiri; dia berkata, “Aku kira kebun ini tidak akan binasa selama-lamanya.” (QS. Al Kahfi: 35)
“ Dan aku kira hari kiamat itu tidak akan datang, dan jika sekiranya aku dikembalikan kepada Tuhanku, pasti aku akan mendapat tempat kembali yang lebih baik daripada ini.” (QS. Al Kahfi: 36)
Hikmah dari cerita tersebut tentang ujian kekayaan. Allah memberikan harta atau kekayaan itu sebagi ujian kepada hamba-Nya, apakah ia masih mengingat Allah dataukah tidak.
3. Nabi Musa dan Khidr
Ketika Nabi Musa AS diminta Allah untuk menjawab “siapa yang paling luas dari orang-orang Bumi?” Musa mengatakan bahwa ia adalah satu-satunya nabi di bumi pada saat itu. Tapi Allah mengungkapkan kepadanya bahwa ada seseorang yang tahu lebih dari dia tentang hal-hal tertentu yakni Nabi Khidr. Akhirnya Nabi Musa melakukan perjalanan mencari Nabi Khidr untuk belajar kebijaksanaan dengannya. Namun, pada akhirnya Nabi Musa gagal memperolehnya. Hal tersebut cara Allah menegur Nabi Musa agar rendah hati dalam memiliki ilmu.
“ Lalu mereka bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami.“ (QS. Al Kahfi: 65)
“Musa berkata kepada Khidhr: “Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?” (QS. Al Kahfi: 66)
“ Dia menjawab: “Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sanggup sabar bersama aku. “ (QS. Al Kahfi: 67)
“ Dan bagaimana kamu dapat sabar atas sesuatu, yang kamu belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu?” (QS. Al Kahfi: 68)
“ Musa berkata: “Insya Allah kamu akan mendapati aku sebagai orang yang sabar, dan aku tidak akan menentangmu dalam sesuatu urusanpun.” (QS. Al Kahfi: 69)
“ Dia berkata: “Jika kamu mengikutiku, maka janganlah kamu menanyakan kepadaku tentang sesuatu apapun, sampai aku sendiri menerangkannya kepadamu.” (QS. Al Kahfi: 70)
“ Maka berjalanlah keduanya, hingga tatkala keduanya menaiki perahu lalu Khidhr melobanginya. Musa berkata: “Mengapa kamu melobangi perahu itu akibatnya kamu menenggelamkan enumpangnya?” Sesungguhnya kamu telah berbuat sesuatu kesalahan yang besar.” (QS. Al Kahfi: 71)
“ Dia (Khidhr) berkata: “Bukankah aku telah berkata: “Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sabar bersama dengan aku.” (QS. Al Kahfi: 72)
“ Musa berkata: “Janganlah kamu menghukum aku karena kelupaanku dan janganlah kamu membebani aku dengan sesuatu kesulitan dalam urusanku.” (QS. Al Kahfi: 73)
“ Maka berjalanlah keduanya; hingga tatkala keduanya berjumpa dengan seorang anak, maka Khidhr membunuhnya. Musa berkata: “Mengapa kamu membunuh jiwa yang bersih, bukan karena dia membunuh orang lain? Sesungguhnya kamu telah melakukan suatu yang mungkar.” (QS. Al Kahfi: 74)
“ Khidhr berkata: “Bukankah sudah kukatakan kepadamu, bahwa sesungguhnya kamu tidak akan dapat sabar bersamaku?” (QS. Al Kahfi: 75)
“ Musa berkata: “Jika aku bertanya kepadamu tentang sesuatu sesudah (kali) ini, maka janganlah kamu memperbolehkan aku menyertaimu, sesungguhnya kamu sudah cukup memberikan uzur padaku.” (QS. Al Kahfi: 76)
“ Maka keduanya berjalan; hingga tatkala keduanya sampai kepada penduduk suatu negeri, mereka minta dijamu kepada penduduk negeri itu, tetapi penduduk negeri itu tidak mau menjamu mereka, kemudian keduanya mendapatkan dalam negeri itu dinding rumah yang hampir roboh, maka Khidhr menegakkan dinding itu. Musa berkata: “Jikalau kamu mau, niscaya kamu mengambil upah untuk itu.” (QS. Al Kahfi: 77)
“ Khidhr berkata: “Inilah perpisahan antara aku dengan kamu; kelak akan kuberitahukan kepadamu tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya.“ (QS. Al Kahfi: 78)
“Adapun bahtera itu adalah kepunyaan orang-orang miskin yang bekerja di laut, dan aku bertujuan merusakkan bahtera itu, karena di hadapan mereka ada seorang raja yang merampas tiap-tiap bahtera.“ (QS. Al Kahfi: 79)
“ Dan adapun anak muda itu, maka keduanya adalah orang-orang mu’min, dan kami khawatir bahwa dia akan mendorong kedua orang tuanya itu kepada kesesatan dan kekafiran.“ (QS. Al Kahfi: 80)
“ Dan kami menghendaki, supaya Tuhan mereka mengganti bagi mereka dengan anak lain yang lebih baik kesuciannya dari anaknya itu dan lebih dalam kasih sayangnya (kepada ibu bapaknya).“ (QS. Al Kahfi:81)
“ Adapun dinding rumah adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang ayahnya adalah seorang yang saleh, maka Tuhanmu menghendaki agar supaya mereka sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanannya itu, sebagai rahmat dari Tuhanmu; dan bukanlah aku melakukannya itu menurut kemauanku sendiri. Demikian itu adalah tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya.” (QS. Al Kahfi: 82)
Hikmah kisah ini bahwa Allah akan memberikan ujian kepada orang yang memiliki ilmu pengetahunan, apakah ia sombong atau tidak.
4. Dzul Qarnain
Dalam surat al kahfi, Allah menyebutkan kisah seorang raja besar yang diberi pengetahuan dan kekuasaan. Ia menjadi raja yang suka bepergian jauh untuk membantu oranglain dan menyebarkan semua hal-hal yang baik. Dia mampu mengatasi masalah Yaju-Majuj dengan membangun bendungan besar yang dibantu orang-orang yang ia bahkan tidak tahu tentangnya.
“ Mereka akan bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Dzulqarnain. Katakanlah: `Aku akan bacakan kepadamu cerita tentangnya`. Sesungguhnya Kami telah memberi kekuasaan kepadanya di (muka) bumi, dan Kami telah memberikan kepadanya jalan (untuk mencapai) segala sesuatu. Maka diapun menempuh suatu jalan. Hingga apabila dia telah sampai ke tempat terbenam matahari, dia melihat matahari terbenam di dalam laut yang berlumpur hitam, dan dia mendapati di situ segolongan umat. Kami berkata: `Hai Dzulqarnain, kamu boleh menyiksa atau boleh berbuat kebaikan terhadap mereka`. Berkata Dzulqarnain: `Adapun orang yang aniaya maka kami kelak akan mengazabnya dengan azab yang tidak ada taranya.Adapun orang-orang yang beriman dan beramal saleh, maka baginya pahala yang terbaik sebagai balasan, dan akan kami titahkan kepadanya (perintah) yang mudah dari perintah-perintah kami`.Kemudian dia menempuh jalan (yang lain). Hingga apabila telah sampai ke tempat terbit matahari (sebelah Timur) dia mendapati matahari itu menyinari segolongan umat yang Kami tidak menjadikan bagi mereka sesuatu yang melindunginya dari (cahaya) matahari itu. Demikianlah. Dan sesungguhnya ilmu kami meliputi segala apa yang ada padanya.Kemudian dia menempuh suatu jalan (yang lain lagi). Hingga apabila dia telah sampai di antara dua buah gunung, dia mendapati di hadapan kedua bukit itu suatu kaum yang hampir tidak mengerti pembicaraan.Mereka berkata: `Hai Dzulqarnain, sesungguhnya Yajuj dan Majuj itu orang-orang yang membuat kerusakan di muka bumi, maka dapatkah kami memberikan sesuatu pembayaran kepadamu, supaya kamu membuat dinding antara mereka?`. Dzulqarnain berkata: `Apa yang telah dikuasakan oleh Tuhanku kepadaku terhadapnya adalah lebih baik, maka tolonglah aku dengan kekuatan (manusia dan alat-alat), agar aku membuatkan dinding antara kamu dan mereka, Berilah aku potongan-potongan besi`. Hingga apabila besi itu telah sama rata dengan kedua (puncak) gunung itu, berkatalah Dzulqarnain: Tiuplah (api itu). Hingga apabila besi itu sudah menjadi (merah seperti) api, diapun berkata: `Berilah aku tembaga (yang mendidih) agar kutuangkan ke atas besi panas itu. Maka mereka tidak bisa mendakinya dan mereka tidak bisa (pula) melubanginya. Dzulqarnain berkata: `Ini (dinding) adalah rahmat dari Tuhanku, maka apabila sudah datang janji Tuhanku, Dia akan menjadikannya hancur luluh; dan janji Tuhanku itu adalah benar`. Kami biarkan mereka di hari itu bercampur aduk antara satu dengan yang lain, kemudian ditiup lagi sangkakala, lalu Kami kumpulkan mereka itu semuanya.“ (QS. Al Kahfi: 83-99)
Hikmah kisah ini mengajarkan bahwa Allah senantiasa menguji hamba-hamba-Nya yang memegang kekuasaan, apakah ia amanah ataukah tidak.
Nah, itulah rahasia-rahasia tentang kisah-kisah penuh hikmah yang terdapat dalam surat Al-Kahfi.
Waallahu’alam.
Source: islampos.com
Banyak di antara kita yang membaca al-Quran hanya sekadar membaca al-Quran.
MUNGKIN kita termasuk ke dalam orang-orang yang rajin membaca al-Quran. Bahkan kita ketahui, saat ini banyak komunitas ataupun sarana yang memudahkan dan membantu kita untuk tilawah setiap hari. Tapi, bagaimana jika tilawah kita setiap hari tak pernah menyentuh hati kita?
Banyak di antara kita yang membaca al-Quran hanya sekadar membaca al-Quran. Tanpa pernah mengerti maksud yang hendak di sampaikan oleh Allah. Sehingga ketika al-Quran dibacakan kepada kita, hati kita hanya biasa-biasa saja. Tak asedikit pun hati kita tersentuh olehnya.
asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah pernah berkata soal ini,
“Apabila engakau melihat pada dirimu, bahwa setiap kali engkau membaca al-Qur’an bertambah pula imanmu, maka itu salah satu tanda taufiq (dari Allah). Namun apabila engkau membaca namun tidak berpengaruh pada dirimu, maka kamu harus segera mengobati dirimu. Aku tidak mengatakan pergilah kamu ke Rumah Sakit, untuk mendapatkan satu dosis obat, cairan, atau lainnya. Namun engkau harus terus menerus mengobati hati. Karena hati yang tidak bisa mengambil manfaat dan nasehat dari al-Qur’an, maka itu adalah hati yang keras dan sakit. Kita memohon kepada Allah perlindungan.”
Ketahuilah saudaraku,
Ketika hati kita sudah tidak tersentuh dengan ayat-ayat Allah, itu artinya hati kita sudah mengeras. Hati yang sudah mengeras akan sulit untuk menerima nasihat dan kebenaran-kebenaran yang sampai padanya. Ketika kita mulai biasa saja dengan al-Quran, maka segeralah obati hatimu yang mengeras itu. Sebelum semuanya terlambat.
Wallhu ‘alam.
Source: islampos.com
AL-QURAN merupakan salah satu mukjizat terbesar dari Allah SWT yang diberikan kepada Rasulullah ﷺ. Hingga saat ini, mukjizat tersebut begitu berarti bagi kita, umat Muslim.
Memperbanyak membaca Al-Quran di rumah dapat mewangikan rumah dan membuatnya sejuk mempesona serta mengusir setan dari dalam rumah.
AL-QURAN merupakan salah satu mukjizat terbesar dari Allah SWT yang diberikan kepada Rasulullah ﷺ. Hingga saat ini, mukjizat tersebut begitu berarti bagi kita, umat Muslim. Sebab, Al-Quran menjadi salah satu pedoman utama bagi kita dalam menjalani kehidupan ini. Di kala susah, senang, bimbang, dapat teratasi dengan Al-Quran.
Itulah hebatnya Al-Quran. Maka, sungguh merugi orang-orang yang tidak membacanya. Dan alangkah bahagianya orang-orang yang memperbanyak membaca Al-Quran di dalam rumahnya. Mengapa begitu?
Hal itu karena Al-Quran mewangikan rumah dan membuatnya sejuk mempesona serta mengusir setan dari dalam rumah. Diriwayatkan dari Abu Musa Al-Asy’ari bahwa Nabi Muhammad ﷺ bersabda, “Perumpamaan orang beriman yang membaca Al-Quran laksana pohon utrujjah (beraroma semerbak wangi); aromanya wangi dan rasanya enak.
Dan perumpamaan orang beriman yang tidak membaca Al-Quran laksana buah kurma; aromanya tidak terasa, tetapi rasanya enak. Dan perumpamaan orang munafik yang membaca Al-Quran laksana tumbuh-tumbuhan raihanah (yang berbau harum); aromanya wangi tapi rasanya pahit. Dan perumpamaan orang munafik yang tidak membaca Al-Quran laksana hanzalah; aromanya tidak ada dan rasanya pahit,” (HR. Bukhari dan Muslim).
Orang yang membaca Al-Quran di rumah dengan khusyuk, akan menjadikan malaikat mendekat kepadanya.
Alangkah nikmatnya jika kita mampu banyak-banyak membaca Al-Quran di rumah. Selain mendapat ganjaran yang tak ternilai harganya dari Allah SWT, kita pun akan merasakan nikmatnya berada di dalam rumah. Wangi dan sejuknya keadaan rumah yang dibacakan Al-Quran akan terasa. Ditambah dengan kekhsyuan membaca Al-Quran, melengkapi rumah kita menjadi lebih berkah dengan datangnya malaikat menemani keluarga kita.
Wangi dan sejuknya keadaan rumah ini, bukan hal yang dapat dirasakan oleh panca indera. Melainkan, keadaan di rumah akan lebih terasa begitu tenang dan menentramkan. Baik itu, karena anggota keluarga kita menjadi pribadi yang baik. Maupun ketidak adaan masalah yang begitu rumit di dalam rumah yang dapat menganggu pikiran kita.
Wallahu ‘alam.
Referensi: Ruqyah Jin, Sihir dan Terapinya/Karya: Syaikh Wahid Abdussalam Bali/Penerbit: Ummul Qura
Source: islampos.com
“Janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya”
HISYAM bin Abdul Malik suatu ketika datang menemui Khalifah Umar bin Abdul Aziz mewakili keluarga Bani Marwan.
“Wahai Amirul Mukminin! Aku adalah utusan kaummu (keluargamu) yang datang menemuimu. Apa yang akan aku sampaikan adalah suara hati mereka. Mereka semua memintamu untuk mengubah keputusanmu tentang apa yang ada di tanganmu (harta), dan memberikan hak mereka sebagaimana dahulu sesuai dengan kewajiban mereka.” kata Hisyam bin Abdul Malik.
“Apa pendapatmu jika aku membawa dua catatan, yang pertama adalah catatan dari Muawiyah sedang yang kedua adalah catatan dari Abdul Malik, kedua-duanya dengan satu perintah, lalu catatan yang mana yang harus aku ambil?” tanya Khalifah Umar bin Abdul Aziz.
“Tentu saja, catatan yang lebih dulu!”
“Tapi aku mendapati Kitab Allah lebih dulu (dari keduanya-pen). Maka aku akan menghukumi dengannya bagi siapapun yang datang padaku, apakah ia berada di bawah pemerintahanku hari ini maupun mereka yang telah mendahuluiku.”
Allah Swt berfirman:
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. al-Hujurat: 1).
Ayat ini sangat tepat dengan karakter kepemimpinan Umar bin Abdul Aziz yang mendahulukan Kitab Allah daripada yang lainnya. Kitab Allah adalah sumber kebenaran, jauh dari kesalahan-kesalahan. Maka adalah sebuah keputusan yang tepat jika kita mendahulukannya daripada yang lainnya.
Ayat diatas juga merupakan salah satu adab Islam tentang tata cara bermuamalah dengan al-Qur’an dan as-Sunnah. Imam Ibnu Katsir mengatakan: “Maksud ayat itu adalah, janganlah kalian tergesa-gesa menghukumi segala sesuatu sebelum hukum Allah dan Rasul-Nya. Bahkan ikutilah ia disetiap urusan.”
Rasulullah Saw ketika mengutus Mu’adz bin Jabal ke Yaman berkata kepadanya: “Dengan apa kamu akan berhukum (di sana)?’
“Dengan kitab Allah.” jawab Mu’adz.
“Jika kamu tidak mendapatinya?”
“Dengan sunnah Rasulullah Saw.”
“Jika kamu tidak mendapatinya?”
“Aku akan berijtihad dengan pendapatku.”
Maka Rasulullah Saw menepuk dadanya dan berkata: “Segala puji bagi Allah yang telah memberi taufiq kepada utusan Rasulullah dalam hal yang diridhai oleh Rasulullah.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, Tirmidzi dan Ibnu Majah).
Maksudnya adalah, Mu’adz bin Jabal mengakhirkan pendapat dan ijtihadnya setelah apa yang ada dalam al-Qur’an dan as-Sunnah.
Abdullah bin ‘Abbas berkata: “Maksud (janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya) adalah, janganlah kalian berkata menyelisihi al-Qur’an dan as-Sunnah.”
Adh-Dhahhak berkata: “Janganlah kalian menghukumi sebuah perkara tanpa menggunakan hukum Allah dan Rasul-Nya dari syari’at-syari’at agama kalian.”
Sedangkan Sufyan ats-Tsauri mengatakan, “Janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya” dengan perkataan maupun tindakan.
Bermain wanita adalah sama halnya dengan zina, haram hukumnya dengan jelas dalam al-Qur’an maupun as-Sunnah. Sekalipun bermain wanita adalah tradisi sebagian kaum bangsawan, tapi bukan berarti hal itu berlaku untuk seorang bangsawan besar semisal Umar bin Abdul Aziz, karena dia mendahulukan apa yang ada dalam al-Qur’an dan as-Sunnah daripada tradisi jahiliyah itu.
Bermabuk-mabukan adalah haram hukumnya dalam al-Qur’an maupun as-Sunnah. Sekalipun sebagian bangsawan ketika itu menyukai khamer, minuman keras, namun bukan berarti itu disuka oleh bangsawan nomor satu seperti Umar bin Abdul Aziz, karena ia tahu apa yang ada dalam al-Qur’an maupun as-Sunnah haruslah didahulukan daripada tradisi murahan itu.
Jelas sudah sikap tegas yang diambil oleh Khalifah Umar bin Abdul Aziz bukan semata-mata karena dorongan egois atau sikap diktator, namun itu adalah sikap tegas yang merupakan refleksi dari ayat-ayat Allah SWT.
Referensi: Umar bin Abdul Aziz 29 Bulan Mengubah Dunia/Karya: Herfi Ghulam Faizi, Lc/Penerbit: Cahaya Siroh
Source: islampos.com
Ibarat seorang petani yang pergi ke sawah untuk menanam dan merawat tanaman padi untuk mendapatkan gabah/ beras. Dalam prosesnya bertemu dengan belut-belut yang membuat lobang di sawahnya.
SANGAT menggembirakan kalau kita melihat bentuk apresiasi terhadap pembaca dan penghafal Al Qur’an di Indonesia akhir-akhir ini. Dari beasiswa penuh, sebagian, bantuan dari gubernur, MTQ dan yang paling menggiurkan adalah lomba hafidz yang ditayangkan TV dengan hadiah melimpah dan popularitas. Berita terbaru, di SPBU tertentu memberikan gratis 2 liter pertalite untuk yang membaca 1 juz Al Qur’an.
Pastinya, berbagai opini muncul dengan berita-berita tersebut.
Sebagai muslim, bagaimana kita bijak menyikapinya?
1. Baiknya, kita kembali menggali dan memahami, apa itu Al Qur’an dan apa tujuan diturunkannya. Jangan sampai kita berpendapat, bersikap dan mengambil tindakan tanpa didasari pemahaman yang benar.
Al Qur’an merupakan kitab yang berisi firman Allah sebagai petunjuk hidup manusia, membacanya bernilai ibadah, bahkan Allah akan membalas dari setiap huruf yang dibacanya dengan kebaikan yang berlipat-lipat.
2. Apakah boleh digunakan untuk mendapatkan hadiah? Sebelumnya kita perlu menjawab pertanyaan, apakah bisa digunakan untuk mendapatkan hadiah jika tidak ada yang menyelenggarakan?
Sebagai penyelenggara, tentu punya niat tertentu mengadakan event yang berujung pada pemberian hadiah kepada pembaca dan penghafal Al Qur’an. Kita sudah terlalu pandai untuk memahami itu. Ada niat yang murni ingin mensyiarkan Al Qur’an dan memotivasi pembaca dan penghafalnya, ada juga yang menunggangi kerja baik ini untuk mencapai tujuan tertentu. Niat seseorang memang bukan wewenang kita untuk menilainya, tapi jangan sampai hal itu menjebak kita tanpa sengaja mendukung program yang justru kontradiktif dengan tujuan mulia mensyiarkan Al Qur’an, bahkan bisa menjurus pada pelecehan terhadap kemuliaannya.
Sebagai pembaca dan penghafal Al Qur’an, tak ada larangan kita mengambil hadiah itu, anggap saja itu bonus, rizki dari Allah di luar pahala yang Allah janjikan. Ibarat seorang petani yang pergi ke sawah untuk menanam dan merawat tanaman padi untuk mendapatkan gabah/ beras. Dalam prosesnya bertemu dengan belut-belut yang membuat lobang di sawahnya. Tidak salah mengambil belut-belut itu, tapi jangan sampai melupakan tujuan utamanya menanti panen gabah, sehingga begitu bernafsu memburu belut, membongkar lobang-lobangnya hingga merusak tanamannya, akhirnya gagal panen!
Tujuan kita membaca, menghafal, memahami dan mengamalkan Al Qur’an adalah sebagai ibadah kepada Allah. Keridhoan dan balasan dari Allah yang menjadi tujuan! Jangan sampai kita melencengkan niat itu! Jelas sebuah kerugian yang sangat besar!
“… Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu” (terjemah QS. Yasin : 60).
Source: islampos.com
Al-quran merupakan obat yang paling ampuh untuk mengobati hati. Tentunya hati kita tidak akan pernah terlepas dari berbagai penyakit di dalamnya. Maka dari itu untuk mengobati hati-hati yang berpenyakit diperlukan Al-quran untuk mengobatinya.
SESUNGGUHNYA, Allah subhanahu wata’aala menurunkan Al-quran sebagai obat hati, petunjuk dan rahmat bagi orang-orang beriman. Allah subhanahu wata’aala telah berbicara kepada seluruh manusia tentang hal ini, seraya berfirman,
“Wahai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) di dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang beriman. Katakanlah, ‘Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Karunia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.’” (Yunus: 57-58).
Dan firman-Nya,
“Dan Kami turunkan dari Al-quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al-quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zhalim selain kerugian.” (Al-Isra’: 82).
Al-quran adalah pelajaran yang paling menyentuh hati bagi orang-orang yang berakal atau mau mendengar, sedangkan ia menyaksikannya. Al-quran itu, demi Allah, merupakan obat yang paling mujarab bagi penyakit-penyakit yang ada di dalam dada dan di hati. Al-quran mengandung penawar bagi penyakit syahwat, penyakit syubhat dan mengandung obat yang dapat menyadarkan kembali hati orang-orang yang lalai.
Ibnu Qayyim rahimahullah, pernah berkata, “Inti penyakit hati itu adalah penyakit syubhat dan nafsu syahwat. Sedangkan Alquran adalah penawar bagi kedua penyakit itu, karena di dalamnya terdapat penjelasan-penjelasan dan argumentasi-argumentasi yang akurat (qath’i) yang membedakan yang haq dari yang batil (palsu), sehingga penyakit syubhat akan hilang. Adapun penawaran (penyembuhan) Alquran terhadap penyakit nafsu syahwat adalah karena di dalam Al-quran itu terdapat hikmah, nasihat yang baik, mengajak zuhud di dunia dan menghimbau untuk lebih mengutamakan kehidupan akhirat.”
Di antara hal penting bagi setiap orang yang ingin menyelamatkan dan memperbaiki hatinya adalah hendaknya ia mengetahui bahwa cara berobat dengan Al-quran itu tidak bisa hanya sekedar dengan membaca Al-quran, melainkan harus memahami dan mengambil pelajaran dari berita-berita yang terkandung di dalamnya dan mematuhi hukum-hukumnya.
“Ya Allah, jadikanlah Al-quran itu sebagai obat dari penyakit hati kami, penawar dada kami dan menghilangkan kegundahan dan kegelisahan kami.”
Source: islampos.com